Memasuki
tahun baru 2005, banyak halangan yang sempat saya alami, terutama dalam
pekerjaan. Dalam kurun waktu 2 bulan, boleh dibilang, tidak ada satupun
order yang masuk ketempat saya. Ini sangat membuat saya kebingungan, apalagi
semenjak salah satu pelanggan saya menolak untuk melunasi tagihan yang
seharusnya sudah menjadi hak saya, karena segala pekerjaan dan tugas saya
sudah saya selesaikan dengan baik. Tapi lewat Firman yang saya dengar,
itulah yang selalu menguatkan saya. Tuhan tidak pernah tinggalkan saya,
apapun keadaan saya, buktinya, saya masih bisa makan, masih bisa ibadah
dan melayani Tuhan. Seolah-olah, Tuhan ingin tunjukkan pada saya, bahwa
ukuran pemeliharaan Tuhan bukan hanya dari uang semata.
Pada bulan Maret yang lalu,
ada kebaktian kunjungan ke kota Kendari. Saya waktu itu tidak bisa mendaftar,
karena dana yang ada hanya untuk 1 orang. Dan disamping itu, pada tanggal-tanggal
itu, saya ada janji untuk presentasi ke 2 perusahaan. Akhirnya, saya hanya
mendaftarkan mama saya saja. Sampai dekat hari H, saya merasa ingin sekali
ikut ke Kendari. Tapi karena banyaknya halangan yang ada di depan, saya
coba menahan diri, saya takut kalau ini hanya emosi saja, karena selama
ini saya tidak pernah absen ikut kebaktian-kebaktian kunjungan baik di
dalam maupun diluar pulau.
Pada satu kesempatan, ada
waktu untuk doa malam. Saya seumur hidup, tidak pernah ikut doa semacam
ini. Pada hari itu saya ikut, dan kerinduan untuk ikut KKR semakin kuat.
Dan saya akhirnya hanya pasrah, saya katakan kepada Tuhan, kalau ini memang
kehendak Tuhan untuk saya bisa ikut, pasti Tuhan akan buka jalan. Tapi
kalau hanya emosi, biarlah Tuhan yang menutup segala jalan saya ke Kendari.
Salah seorang panitia bagian
transportasi sempat menanyakan saya, apakah saya jadi ikut atau tidak,
karena untuk dapat tiketnya kalau terlalu dekat waktunya akan sangat sulit.
Waktu itu saya hanya katakan, bahwa saya akan kabari nanti. Dan kalaupun
tidak dapat tiket yang murah, saya akan bayar tiket yang mahal, tidak
apa-apa, asalkan itu semua memang seijin Tuhan.
Pada tanggal 19 Maret 2005,
salah satu perusahaan yang cukup besar mengontak saya untuk presentasi
pekerjaan saya. Dan perusahaan tersebut segera meminta proposal dari saya.
Dan proposal itu segera saya buat, tapi sampai dengan tanggal 23 pagi
hari, masih belum ada kabar. Padahal saya janji bahwa saya akan mengabari
panitia, saya jadi ikut atau tidak. Karena tidak ada kabar, akhirnya saya
beri kabar bahwa saya tidak bisa ikut. Mendadak, jam 12 siang, perusahaan
tersebut kontak saya, dan setelah terjadi tawar menawar, beliau menyetujui
proposal saya. Saya segera kontak ke panitia dan saya katakan saya jadi
ikut. Tiket untuk saya hanya bisa diurus pada tanggal 24, karena tanggal
25 dan 26 banyak travel agent yang tutup. Saya waktu itu tidak berharap
banyak, kalaupun ini memang dari Tuhan dan saya harus bayar mahal, saya
akan bayar. Tapi diluar dugaan, harga tiket yang saya dapat sama dengan
harga tiket peserta-peserta yang lain. Benar-benar saya mengalami pekerjaan
tangan Tuhan. Tuhan yang menggerakan hati saya dan Tuhan juga yang membukakan
semua jalan bagi saya, yang bagi saya sepertinya mustahil.
Waktu saya sampai di Kendari,
saya bertemu beberapa hamba Tuhan dari Poso dan mereka bercerita bagaimana
perjalanan mereka untuk menuju Kendari dengan motor dan mobil yang diisi
penuh sesak, tanpa AC, padahal perjalanan memakan waktu 24 jam. Dan malah
ada mobil yang mogok, sehingga harus bermalam di jalan. 1 perkataan dari
mereka yang sangat membekas di hati saya, mereka katakan, inilah harga
yang harus kita bayar demi Firman Tuhan. Saya ingat kotbah Pak Wi beberapa
waktu lalu, yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan Firman, jarak tidak
menjadi masalah. Saya cukup tertegun waktu itu. Tuhan ingatkan saya, betapa
saya masih lebih enak daripada mereka. Seandainya saya di posisi mereka,
bisakah saya berbuat seperti mereka? Saya tahu, saya tidak mampu. Saya
hanya mohon kekuatan dari Tuhan, agar berapapun harga yang harus saya
bayar, saya bisa melakukannya, demi mendapatkan Firman Tuhan yang selama
ini sudah banyak menguatkan saya. Apa yang sudah saya lakukan untuk Tuhan,
benar-benar saya rasa tidak sebanding dengan apa yang sudah Tuhan perbuat
bagi saya. Puji Tuhan. |