| Selam sejahtera dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Saya akan menyaksikan kemurahan Tuhan yang sudah menolong kami sewaktu di Ciawi.
Sewaktu suami tetapkan untuk kami sekeluarga ikut ke ciawi. Saya diperadapkan
pada suatu masalah yang membuat saya sakit hati. Dan masalah ini yang membuat
saya pribadi sudah tidak ingin ikut ke ciawi. Tapi suami tetap memaksa untuk
ikut dan membuat saya selama dalam perjalanan mengerutu/ngomel terus. Walaupun
suami sudah mengingatkan saya tentang penderitaan daging tanpa dosa.
Nasehat itupun saya bantah. Sesampainya di Ciawi hati saya tetap tidak damai.
Bahkan sewaktu saya mengikuti kebaktian ke-2 (pagi) yang diakhir kebaktian
bapak gembala memberi kesempatan bagi yang membutuhkan bantuan doa untuk maju
ke depan, saya tetap mengeraskan hati tidak mau didoakan. Tepat setelah selesai
kebaktian, anak saya yang pertama mengalami kesakitan di mukanya. Mulanya saya
pikir itu hanya bekas dari tangannya yang kotor terus pegang mukanya selama
diperjalanan. Tapi lama kelamaan luka itu bercampur dengan nanah terus merembet
kearah matanya. Dan dia hanya bisa menangis terus. Sorenya selama mengikuti
kebaktian anak saya sudah tidak menangis lagi tapi saya tetap menyimpan kejengkelan
itu. Setelah kebaktian usai, saya diingatkan oleh papa saya untuk minta bantuan
doa sama bapak gembala, tapi saya menolak karena saya pikir bapak gembala pasti
sibuk mengurusi lainnya.
Tapi Tuhan berkata lain, persis setelah saya keluar dari ruang makan setelah
berbicara dengan papa saya, saya dipertemukan sama bapak dan ibu gembala. Saya
belum sempat ngomong apa-apa, bapak gembala melihat muka anak saya langsung
mendoakan. Dan kata-kata pertama yang diucapkan bapak gembala adalah
memohon ampun buat orang tuanya. Di situ hati saya seperti ditegur
langsung sama Tuhan. Saya meminta ampun pada Tuhan. Karena dengan saya mengerutu/ngomel
dan tidak dengan hati damai, sudah membuat anak saya mengalami ini semua.
Setelah selesai makan malam dan kami pun pulang. Dalam perjalanan, anak saya
bilang kalau setelah didoakan bapak gembala tidak sakit lagi, bahkan sewaktu
saya lihat luka yang tadinya ada nanah, sudah kering juga. Dari sini kami
merasa mujizat dan pertolongan Tuhan telah terjadi dalam rumah tangga saya.
Puji Tuhan dan Terima kasih. |