Pada waktu di umumkan KKR ke Poso, sebenarnya saya
sudah tergerak untuk ikut. Tapi karena banyak kekuatiran yang ada dalam
diri saya, akhirnya saya mengeraskan hati untuk tidak ikut. Tapi waktu
pak Wi mengatakan akan menggunakan LCD (Liquid Crystal Display) projector di sana, saya mulai tertuduh,
tapi saya tetap mengeraskan hati demi kekuatiran saya. Sampai pada hari
terakhir, saya tetap tidak mau ikut, walaupun pak Wi tetap menegaskan
bahwa akan menggunakan LCD di sana. Pada hari Minggu, 12 Maret 2006, Firman
Tuhan di sampaikan mengenai berdiri di tepi pantai, tidak mau menyeberang,
yang artinya tidak mau ikut kegerakan rohani, hanya memikirkan diri sendiri.
Waktu itu saya benar-benar sudah tidak bisa tahan lagi. Dalam hati saya
berdoa, kalau memang kemurahan Tuhan, saya bisa ikut, saya akan ikut.
Secara logika, sangat mustahil, karena keberangkatan pak Wi adalah hari
Minggu sore. Hanya kurang beberapa jam saja. Saya cek di internet, ternyata
pulangnya tidak ada tiket. Tapi kemurahan Tuhan, ternyata ada tiket, hanya
tersisa 2 buah. Memang mahal sekali dan hampir-hampir saya batal hanya
karena biaya. Untung pak Wi cepat ingatkan saya. Memang untuk taat dan
karena kekerasan hati saya sendiri, itulah harga yang harus saya bayar,
tapi syukur pada Tuhan, bahwa saya masih bisa ikut, tidak sampai berdiri
di tepi pantai, yang hanya akan di mangsa antikris.
Minggu sore, rombongan berangkat, hanya 4 orang, yaitu Pak Wi dan ibu,
tante Ester dan saya sendiri. Sangat banyak barang yang dibawa, sehingga
kami berempat harus agak repot untuk membawa barang-barang elektronik
yang ada. Tapi Tuhan menyertai sampai kami tiba di Tentena. Dan disana,
di tepi danau Poso, saya bisa lihat banyak tenda-tenda darurat yang dibuat
untuk rombongan-rombongan dari berbagai tempat bisa tidur. Sangat sederhana,
tapi tidak ada omelan apapun dari mereka. Ketika hari pertama kebaktian,
ibadah dibuka oleh sambutan bupati Poso, bpk. Piet Inkiriwang. Dihadiri
sekitar 2000 orang. Namun, saat Firman disampaikan, tidak banyak yang
berlalu lalang. Semua mendengarkan Firman dengan sungguh-sungguh. Dan
ini berlangsung sampai hari terakhir, walapun Firman yang di sampaikan
sekitar 2 jam. Betul-betul saya melihat sendiri bagaimana antusiasnya
mereka terhadap Firman Pengajaran, meski tidak sedikit juga yang berasal
dari organisasi lain.
Setelah selesai pelayanan, perjalanan pulang dilanjutkan keesokkan harinya.
Dan Tuhan benar-benar menyertai kami semua. Roda mobil yang sempat bocor
waktu berangkat dan pulang, tidak sampai menimbulkan kecelakaan bagi kami
semua. Sampai kami tiba di Surabaya, tidak ada kekurangan apapun. Benar-benar
Tuhan sudah menyertai dari awal sampai akhir perjalanan kami. Dan apa
yang saya kuatirkan sebelum saya berangkat, ternyata tidak terjadi semua.
Bersyukur pada Tuhan bahwa di saat-saat akhir, masih ada kesempatan bagi
saya untuk ikut. Seandainya saya tidak ikut, mungkin banyak kejadian buruk
yang menimpa saya. Saya sangat menikmati perjalanan kali ini baik dari
segi rohani dan jasmani. Bisa saya rasakan dan saya lihat, bahwa kalau
saja saya mau taat pada Firman, tidak ada yang perlu saya kuatirkan lagi.
Ini juga merupakan salah satu point dalam ibadah persekutuan di Tentena.
Untuk di pakai Tuhan, tidak boleh ada kekuatiran, apalagi hanya soal makan
minum dan hidup sehari-hari. Dan memang salah satu kekuatiran saya sebelum
berangkat adalah soal makanan dan penginapan. Tuhan memberkati. |