Ayat emas: Mazmur 119:94
“Aku kepunyaanMu, selamatkanlah aku, sebab aku mencari titah-titahMu.”
Dengan berpegang akan ayat emas di atas, saya seizin Tuhan Yesus dapat mengikuti
pelayanan kunjungan penggembalaan ke luar. Yah ke mana saja, oleh kehendakNya
saya pergi. Kasih kemurahan Tuhan Yesus selalu mencukupkan pensiunan saya yang
tak begitu besar, saya utamakan untuk ibadah pelayanan dan kebutuhan sehari-hari,
sisanya saya tabung. Saya bersyukur kepada Tuhan saya, Yesus, uang tabungan
tersebut tak habis-habis walau hampir setiap bulan saya ambil untuk biaya kebaktian
kunjungan ke luar untuk mencari pembukaan firman.
Saya banyak menerima pengalaman nyata dari pembukaan firman pengajaran. Saya
merasakan keubahan sifat yang suka pura-pura serta menambah kuat dan mempermanensikan
iman, pengharapan, dan kasih saya kepada Tuhan Yesus saja. Doa-doa saya selalu
dijawabNya tepat pada waktunya, terutama buat anak laki-laki saya yang mulai
ibadah lagi di Surabaya.
Tempat tinggal saya di desa, sepi sendiri, dan rumah-rumah sekeliling saya
tanpa penghuni. Namun hati saya selalu damai, sedikitpun tak ada rasa takut,
tentram dan damai senantiasa. Saya tak meragukan bahwa Yesus yang memiliki saya
menyertai dan menyelamatkan seisi rumah bila saya tinggalkan karena pelayanan
keluar beberapa hari. Kendatipun sering terjadi bila rumah dalam keadaan kosong
dijarah tamu yang tak diundang dan pasti habis-habisan isinya.
Saya ingat sewaktu pelayanan di Nias (Sumatra Utara), pada pukul 14.45 awan
mendung gelap nyaris hujan deras, padahal kebaktian diadakan di lapangan terbuka.
Saya pastikan kita bangun dan mohon keajaiban Tuhan Yesus untuk cuaca yang baik.
Tentu doa-doa kita bersama sidang jemaat di Malang dan di Nias, berpadu! Yah
terpuji nama Tuhan Yesus, langit terang, bersih, dan kebaktian terselenggara.
Saat kebaktian terakhir lampu seluruh kota padam, gelap gulita, kita melantunkan
pujian dengan semangat untuk mengusir kuasa kegelapan. Apa yang Tuhan pertontonkan
kepada kita? Sekeliling lapangan tersebut nyala lampu sepeda motor menyoroti
ke tengah lapangan yang penuh orang. Kita menyaksikan mereka dengan berkobar-kobar
memuliakan Tuhan Yesus. Byar... lampu menyala terang-benderang, lampu-lampu
sepeda motor masih tetap mengelilingi lapangan, mereka tak beranjak untuk mendengarkan
firman Allah.
Banyak kemustahilan yang diadakan Tuhan Yesus, terutama di Medan, karena di
sana banyak tantangan dalam pengajaran yang benar ini, yang membentuk umatNya
jadi ”imamat yang rajani”. Pada kunjungan pertama, pada kebaktian
terakhir, hari Kamis tanggal 21 April 2005, sebelum kebaktian saya masuk ke
ruangan dan heran sebab di atas meja Perjamuan Suci dan sekelilingnya penuh
asap/awan. Spontan saya mengucapkan kepada teman ”awan kemuliaan Tuhan”
dan saya katakan juga kepada seorang hamba Tuhan yang saya kenal. Kesan penutup
dari kebaktian tersebut firman Allah menyatakan bahwa imam-imam yang taat dan
dengar-dengaran akan dijemput oleh Tuhan Yesus di awan-awan kemuliaan Tuhan
dan masuk Kerajaan Surga (Wahyu 15:8).
Firman Mempelai ini nyata dan praktis sehingga mengundang banyak jiwa datang,
dan pada setiap kunjungan semakin bertambah jumlah yang hadir, bahkan yang menentang
pun ikut bergabung. Kesaksian dari Ibu penyelenggara serta panitia menyatakan
bahwa sebelum rombongan Pak Widjaja Hendra, di sana ada persekutuan, setiap
membagi makanan selalu ada keributan, tak tertib dan mereka berebut hingga para
petugasnya kewalahan, kacau sekali. Panitia mencari segala cara untuk mengatasinya
namun selalu gagal. ”Heran sekali,” kata Ibu Ani, sejak kehadiran
Pak Widjaja mereka tertib dan sopan. Rupanya firman pengajaran yang keras dan
benar ini banyak mengubahkan sifat dan penampilan mereka.
Kenyataan Yesus penyelamatku benar-benar terbukti. Pada tanggal 25 Januari
2006 kami rombongan kecil pulang. Perjalanan Medan sampai Jakarta lancar, namun
di Bandara Soekarno-Hatta terjadi keributan kecil. Seorang laki-laki berkata
keras dan kasar, serta kardus yang berisi kardus kecil berisi roti ditendang
hingga roti berserakan di lantai gara-gara pesawat ke Surabaya terlambat datang.
Yah kita yang berada di situ tercekam, mungkin ada yang ketakutan, kuatir terjadi
hal-hal seperti yang ditayangkan di TV. Untung tak ada yang menanggapi. “Penyulut
api” padam.
Setelah pesawat mengudara beberapa menit mendadak pesawat melesat naik dan
turun secara drastis. Kami spontan menjerit “darah Yesus”. Yah saya
bernafas panjang, bersyukur tak terjadi apa-apa.
Pengumuman berkumandang bahwa sesaat lagi pesawat mendarat di Bandara Juanda.
Saya melihat jam hampir ±20 menit pesawat menjauhi landasan padahal sudah
nampak lampu-lampu kota Surabaya tapi makin gelap. Saya berdoa, saya mohon keselamatan
kepada Tuhan Yesus Kristus Juruselamatku. Tiba-tiba pesawat mendarat dengan
hempasan yang kuat, dengan keras saya sebut “Yesus”, jantung saya
berdebar, saya akhiri doa saya dengan ucapan “Terima kasih, Yesusku.”
Demikian kesaksian saya, semoga kesaksian ini menjadi berkat bagi kita semua.
Amin! |