Pertama-tama saya mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah memimpin kehidupan
saya sampai akhir tahun. Suka dan duka dapat saya tanggung, semua hanya oleh
kasih Tuhan. Awal tahun ini saya mendapat hadiah dari Tuhan yang saya anggap
besar. Pada akhir tahun yang lalu saya sakit dan paman saya meninggal. Suami
saya yang pergi ke Jakarta juga masuk rumah sakit dan harus menjalani operasi
yang menghabiskan biaya 30 juta, namun suami saya memilih untuk mencari pengobatan
lain. Kemudian suami saya dibawa ke Kepanjen dengan alasan di sana ada cucunya
yang merawat. Saya sendiri mau dijemput ke sana tapi tidak bisa karena saya
sendiri sedang sakit.
Saya bersyukur atas kemurahan Tuhan. Saya hanya bersandar pada Tuhan. Penyakit
saya sendiri berkelanjutan. Sakit satu, muncul yang lain. Waktu saya dijenguk,
saya berpikir sudah bisa ke gereja lagi, tapi ternyata kambuh lagi.
Hari kamis yang lalu Bapak Maalalu dan Viktor menjenguk saya. Saya berharap
nanti sore bisa beribadah. Saya mohon kekuatan Tuhan. Tapi bagaimana lagi, saya
masih merasa pusing. Penyakit saya yang terakhir adalah vertigo. Dengan penyakit
ini, saya tidak bisa apa-apa, membuka mata atau pun makan susah. Kalau penyakit
yang lain saya masih bisa berdiri, masih bisa makan. Puji Tuhan, sekalipun saya
hanya bisa minum, tapi saya tetap merasa segar. Hari Jumat Bapak dan Ibu Gembala
menyempatkan diri untuk menjenguk saya.
Kalau tahun lalu saya melepaskan hak untuk dihormati, tahun ini saya mengejar
hak untuk hidup dalam gendongan Tuhan. Saya diajar Tuhan untuk sungguh-sungguh
hidup dalam gendongan Tuhan. Suami saya sudah tidak dapat bekerja lagi. Itu
sesuatu yang berat, tapi saya meniru Raja Daud, ”TUHAN adalah gembalaku,
takkan kekurangan aku.” Saya hidup dalam gendongan Tuhan.
Saya banyak mengalami sakit-penyakit, bahkan dokter mengatakan penyakit yang
mematikan. Saya tanggung dengan rela. Saya beribadah sekalipun, sebenarnya saya
tidak benar-benar sehat. Kalau terpaksa sakit dan tidak mampu beribadah, baru
saya tidak beribadah. Kalau saya tidak masuk dalam ibadah, alasan saya hanya
satu, yakni karena sakit, bukan karena saya pergi ke mana-mana.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Gembala yang sudah mengunjungi
saya, Saudara-Saudara yang juga sudah mengunjungi saya, Saudara-Saudara yang
sudah mendoakan saya, yang menyebut nama saya di dalam doa waktu kebaktian.
Kiranya Tuhan yang membalas dengan berkat berkelimpahan. |