Saya ingin menyaksikan cinta kasih dan kemurahan Tuhan yang sudah saya alami
selama ini. Saya akan membagi dua kesaksian saya;
Yang pertama adalah tentang penggembalaan. Tahun ini genap 8 tahun saya digembalakan
di tempat ini. Dalam penggembalaan saya sangat bisa merasakan bahwa Tuhan bekerja
dalam kehidupan saya. Memang dalam pengikutan kita kepada Tuhan, banyak sengsara
yang harus kita tanggung, sebab itulah pengikutan yang benar, pengikutan salib,
dan itupun saya alami. Tetapi lewat firman penggembalaan, saya bisa bertahan
sampai saat ini. Saya sungguh bisa merasakan bahwa dalam 3 macam ibadah saya
sangat dikuatkan. Saat saya akan jatuh atau putus asa atau kecewa, firman itu
selalu datang untuk mengangkat dan menolong kehidupan saya. Saat saya kering
rohani, firman itu juga datang mengoreksi kehidupan saya sehingga saya bisa
menyelesaikan dosa-dosa dan Tuhan pulihkan keadaan saya. Lewat firman pengembalaan,
Tuhan memproses kehidupan saya, Tuhan mengubahkan kehidupan saya sedikit demi
sedikit. Walaupun sampai saat ini saya menyadari bahwa masih banyak sifat tabiat
saya yang belum berkenan kepada Tuhan, tapi saya yakin, lewat firman penggembalaan
yang begitu keras, saya akan terus diproses sampai suatu saat bisa sama seperti
Dia. Sungguh saudara, dalam penggembalaan saya bisa mengaku bahwa Tuhan begitu
indah dalam hidup saya. Sekalipun itu harus ada sengsara, Tuhan begitu indah.
Bahkan saat Tuhan memanggil ayah saya, yang merupakan penderitaan paling hebat
dalam hidup saya, saat itu saya bisa bertahan karena saya hanya mengingat doa
Yesus di Getsemani, ”... bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah
yang terjadi.”
Yang kedua, saya ingin menyaksikan kemurahan Tuhan dalam studi saya sampai
saat ini. Firman kebaktian Kaum Muda dan Remaja pada minggu yang lalu (Sabtu,
7 Januari 2006) dan kesaksian-kesaksian Bapak Gembala benar-benar mendorong
saya untuk bisa menyaksikan juga kemurahan Tuhan yang saya alami dalam studi
saya. Bagi seorang pelajar, saya rasakan memang berat untuk bisa tekun dalam
3 macam ibadah. Saat yang lain bisa belajar untuk ulangan atau ujian besok,
saya masih harus beribadah. Kadang seusai ibadah, saya berbincang-bincang lewat
telepon dengan teman saya tentang pelajaran besok. Dia entah sudah sampai bab
berapa, saya mungkin baru selesai beberapa halaman. Kadang saat saya belajar
sampai tengah malam atau bahkan sampai dini hari, seperti yang dialami Bapak
Gembala, kadang juga terbersit pikiran, “Coba tadi tidak ibadah, pasti
sekarang sudah tidur.” Tetapi Tuhan selalu menguatkan saya, sehingga saya
tidak kecewa dan Tuhan itu tidak menipu, Tuhan selalu menolong saya lewat berbagai
cara. Nilai yang saya pikir turun, malah naik, entah itu lewat diindeks atau
apapun juga. Tetapi saya yakin semuanya itu adalah kemurahan dan belas kasihan
Tuhan bagi saya. Asalkan kita mau mendahulukan ibadah pelayanan, semua itu akan
ditambahkan kepada kita.
Kemurahan Tuhan juga saya rasakan saat kelas 2 SMA. Saya dipanggil untuk mengikuti
training olimpiade di Jakarta selama 1 bulan. Satu minggu di sana, saya sangat
tertekan dan stres karena saya berangkat hanya karena sungkan kepada manusia,
bukan karena kehendak Tuhan. Tapi lewat pertolongan Tuhan, kepala sekolah saya
mau membuat surat penarikan saya sehingga saya bisa kembali ke Malang. Mungkin
dunia memandang itu bodoh, diberi kesempatan kok disia-siakan. Tapi saya yakin,
kehendak Tuhan yang terbaik bagi saya.
Pertolongan Tuhan juga berlaku dalam pemilihan sekolah. Kalau kehendak daging
saya, saya ingin ke luar kota, kalau perlu ke luar negeri, tapi Tuhan berkehendak
lain sehingga sampai saat ini saya masih di Malang, masih tergembala di tempat
ini. Saat kuliah Tuhan izinkan saya juga bisa bekerja. Tuhan yang mengaturkan
segala sesuatunya. Tuhan yang mengatur waktu belajar saya. IP yang tidak pernah
saya pikirkan, Tuhan berikan. Tuhan menjadikan saya lebih dari pemenang karena
saya sebenarnya tidak mampu. Asalkan kita mau taat dengar-dengaran, Tuhan pasti
menolong.
Pada UAS minggu yang lalu, pada ujian hari pertama adalah mata kuliah yang
paling saya takuti dan sudah diakui sebagai mata kuliah yang paling sulit. Karena
2 hari sebelumnya ada kebaktian berturut-turut, saya sudah mencicil beberapa
hari sebelumnya. Tetapi kemudian muncul roh sombong saat akan menghadapi ujian,
saya merasa lebih bisa daripada teman-teman saya. Akhirnya, Tuhan izinkan saya
tidak bisa mengerjakan ujian dengan baik. Lebih lagi, setelah ujian saya mengetahui
kalau 1 soal yang muncul dari total 3 soal adalah soal tahun lalu dan sejumlah
teman saya sudah mengerjakannya dengan bantuan kakak tingkat. Karena ujiannya
open book, mereka bisa menyalin dengan enaknya, sementara saya harus berpikir
keras. Saat itu saya benar-benar takut akan mendapat nilai D atau D+ karena
dosen ini memang menginginkan jawaban yang benarnya sempurna, tidak boleh salah
sedikitpun, dan nilai yang banyak muncul dari tahun ke tahun adalah D atau D+.
Tapi kemudian saya minta ampun kepada Tuhan atas segala kesombongan, ketakutan,
dan kekuatiran saya, untuk kemudian berserah pada kehendak Tuhan. Firman kebaktian
Doa dan Kaum Wanita saat itu juga menguatkan saya untuk berserah kepada Tuhan,
menanti pertolongan Tuhan. Itulah enaknya tergembala, saat kita jatuh, Tuhan
yang mengangkat. Saat itu saya memang belum tahu nilai apa yang saya peroleh,
tapi Tuhan sudah berikan damai sejahtera untuk saya bisa menerima apapun nilai
yang diberikan. Seandainya jelek, toh masih ada kesempatan untuk mengulang,
asalkan saya tidak gagal dalam pengikutan kepada Tuhan. Ternyata akhirnya saya
mengetahui bahwa nilai yang saya peroleh adalah C, dan saya sangat bersyukur
kepada Tuhan. Walaupun memang bukan nilai yang terbaik, tapi nilai itu adalah
kemurahan Tuhan bagi saya.
Itulah saudara-saudara, begitu heran kasih kemurahan Tuhan lewat penggembalaan
yang saya alami. Dalam kesaksian ini saya benar-benar tidak ada maksud untuk
menyombongkan diri, saya mohon ampun kalau sampai ada kesombongan. Sebab siapakah
saya, saya hanyalah manusia yang masih banyak ditandai cacat cela dalam hidup
sehari-hari maupun dalam pelayanan. Segala yang bisa saya lakukan adalah dari
Tuhan. Kemurahan Tuhan begitu besar bagi kehidupan kita bangsa Kafir yang hina
ini. Saya hanya bisa membalas kasih-Nya dengan beribadah dan melayani Tuhan.
Inti dari kesaksian saya saat ini adalah masa muda yang saya alami bersama Yesus
dalam penggembalaan adalah sungguh indah, dan Tuhan juga menjanjikan masa depan
yang indah kalau kita mau taat dengar-dengaran kepada Dia, sampai masa depan
yang kekal. Semoga kesaksian ini bisa menjadi berkat bagi saudara sekalian.
Amin. |