Saya rindu untuk menyaksikan cinta kasih dan kemurahan Tuhan yang sudah Tuhan
nyatakan lewat 3 kali pertolonganNya dalam hidup saya:
- Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah mempercayakan pelayanan kepada saya
di tahun 2005, baik pelayanan dalam penggembalaan maupun antarpenggembalaan.
Pada pertengahan tahun 2005 terjadi pergantian pimpinan di kantor saya. Selama
dalam kepemimpinan Kacab yang lama, saya tidak pernah mengalami kesulitan
dalam hal izin untuk ibadah karena beliau juga dari GPT sehingga tidak berani
melarang jika saya izin untuk keperluan ibadah, dengan alasan takut akan Tuhan.
Dengan adanya Kacab yang baru, saya berpikir bahwa kedepannya saya akan mengalami
kesulitan jika minta izin untuk keperluan ibadah. Tetapi dalam hati saya ingat
nubuatan firman bahwa dulu bangsa Israel untuk bisa keluar dari tanah Mesir
dengan tujuan beribadah kepada Tuhan, juga harus menghadapi halangan-halangan/tekanan-tekanan
yang semakin hari semakin berat. Oleh sebab itu, saya hanya bisa mempersiapkan
diri untuk menghadapi kemungkinan tersebut dengan semakin tekun & setia
dalam setiap ibadah pelayanan yang diadakan dalam penggembalaan, baik dalam
ibadah pokok maupun ibadah tambahan (doa puasa, doa malam, doa semalam suntuk,
retreat), terutama memperbaiki sikap hati saat-saat mendengarkan firman Tuhan.
Menghadapi pelayanan yang begitu banyak di bulan Desember 2005, terutama pelayanan
ke Saojo-Poso, saya mengalami masalah dalam hal biaya & izin/cuti dari
kantor, apalagi ditengah banyaknya kesibukan di kantor menghadapi tutup pembukuan
tahun 2005. Tapi Tuhan sudah membuka jalan sehingga saya bisa mengikuti pelayanan
ke Saojo dengan baik. Tuhan mencukupkan biaya untuk bisa pulang-pergi naik
kapal laut, bahkan oleh kemurahan Tuhan saya boleh pulang dengan naik pesawat.
Juga untuk bisa cuti kantor selama 6 hari, ini merupakan keajaiban bagi saya.
- Setelah pulang dari Saojo, masih ada beberapa pelayanan kunjungan sehubungan
dengan Natal yang Tuhan bebankan untuk saya ikuti, sedangkan jatah cuti saya
di tahun 2005 hanya tinggal 6 hari dan sudah saya ambil untuk keperluan pelayanan
ke Saojo. Menurut pemikiran manusia sangatlah tidak mungkin bagi saya untuk
bisa mengikuti pelayanan-pelayanan tersebut, sedangkan hati saya begitu rindu
dan sedih setiap kali melihat saudara-saudara yang lain berlatih lagu untuk
pelayanan-pelayanan tersebut. Dalam hati, saya bertanya kepada Tuhan, ”Tuhan,
mengapa mereka boleh melayani Engkau, sedangkan saya tidak..??” Meskipun
hati kecil saya coba menghibur dengan mengatakan bahwa jatah cuti saya habis
juga untuk melayani Tuhan, jadi jika sekarang saya tidak bisa melayani karena
tidak bisa cuti lagi .. itu tidaklah apa-apa. Menghadapi hal ini saya merasa
sangat tidak berdaya dan satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah berdoa
untuk mohon belas kasihan Tuhan agar saya boleh menyelesaikan tugas pelayanan
yang Tuhan bebankan di tahun 2005 secara tuntas.
Tuhan memberikan keberanian kepada saya untuk menghadap pimpinan dan menanyakan
apakah masih boleh saya minta izin untuk keperluan ibadah pelayanan. Diluar
pikiran saya, ternyata beliau memberikan izin dengan begitu mudahnya bahkan
minta didoakan agar semua urusan kantor bisa berjalan dengan baik. Saya sangat
heran dengan pembukan jalan yang Tuhan lakukan. Apa yang tadinya saya pikir
sulit ternyata Tuhan selesaikan dengan begitu mudahnya.
Tuhan ingatkan saya bahwa semua itu adalah hasil ketekunan dari ibadah-ibadah
yang saya ikuti selama ini, baik 3 macam ibadah pokok maupun ibadah-ibadah
tambahan. Sebab jika kita mau bertekun, sekalipun keadaan hidup kita tidak
dalam masalah, semua baik & lancar-lancar saja, bahkan dalam bekat-berkat,
hal ini sama dengan kita sedang mengumpulkan minyak persediaan/cadangan. Sehingga,
jika sewaktu-waktu masalah datang & sepertinya tidak ada lagi jalan keluar
yang bisa kita lakukan maka minyak persediaan/cadangan itu yang akan membukakan
jalan bagi kita. Hal ini membuat saya semakin mengerti bahwa asalkan kita
mau selalu taat dengar-dengaran dan menyerah sepenuh kepada Tuhan, kuasa Tuhan
sanggup untuk membukakan pintu-pintu yang tertutup bahkan kemustahilan-kemustahilan
yang ada dalam setiap langkah kehidupan kita. Dan, dalam setiap ibadah pelayanan
yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, di dalamnya terkandung janji dan
jaminan pemeliharaan serta perlindungan Tuhan atas hidup jasmani dan rohani
kita, mulai hidup di bumi sekarang ini sampai kehidupan kekal.
- Sehubungan dengan dilaksanakannya tutup buku tahunan di kantor saya per
tgl. 31 Desember 2005 dan Stock opname per tgl. 02 Januari 2006, saya menghadapi
masalah yang tidak pernah saya alami sebelumnya berkaitan dengan tugas saya
sebagai kasir-1, yaitu uang kas yang saya pegang terjadi selisih/kurang sebesar
± Rp. 1.000.000,00, sekalipun pembukuan yang saya kerjakan sudah saya
cek secara berulang-ulang. Setelah upaya saya menthok dan tidak membuahkan
hasil, saya menyerahkan laporan-laporan tersebut kepada pimpinan sambil berpesan
agar memeriksa kembali apakah ada kesalahan dalam laporan yang saya buat,
antara pencatatan bilyet giro, cek, dan uang tunai, karena telah terjadi kekurangan
pada uang tunai. Ini terjadi pada tanggal 31 Desember 2005. Pada malam harinya
adalah kebaktian tutup dan buka tahun, Firman Tuhan menjanjikan suasana Firdaus
di tahun 2006.
Sesuai janji Firman, saya berharap bahwa pada waktu masuk kerja nanti semoga
berita baik yang saya terima dari pimpinan bahwa memang terjadi kesalahan
pembukuan. Tapi ternyata pada tanggal 2 Januari 2006 pagi berita buruk yang
saya terima, beliau mengatakan bahwa semua laporan yang saya kerjakan benar
dan tidak ada kesalahan, dan itu berarti bahwa uang tunai dari kas yang saya
pegang benar-benar kurang. Hal ini membuat saya mulai kuatir.
Dua tempat kemungkinan saya bisa bertanya adalah ke bank (tempat dimana saya
melakukan penyetoran/transfer setiap hari) dan kasir-2/teman saya yang kebetulan
waktu itu tidak masuk kerja dikarenakan ibunya meninggal di Tulungagung. Saya
tidak tahu sampai berapa lama dia tidak masuk kantor. Dari pihak bank, saya
mendapatkan jawaban bahwa tidak ada kelebihan setoran dari kantor kami. Jadi
harapan satu-satunya adalah bertanya ke kasir-2.
Tanggal 2, 3, dan 4 Januari 2006 adalah saat-saat saya diproses oleh Tuhan
soal kekuatiran, ketakutan, dan penyerahan diri sepenuh kepada Tuhan. Beberapa
hari itu, setiap kali saya ingat masalah yang sedang saya hadapi, hati saya
menjadi takut, kepala saya menjadi pusing, dan muka saya menjadi muram. Saat
bercermin saya bertanya kepada Tuhan, “Ah Tuhan.., masak masalah seperti
ini saja koq bikin muka saya semuram ini sich...??!!” Tuhan berkata,
“ Aku & kamu yang paling tahu kebenaranmu (artinya: Tuhan &
saya yang paling tahu kejujuran saya dalam bekerja). Mengapakah hatimu begitu
takut menghadapi sengsara tanpa dosa, jika ini seijin-Ku? Apakah kamu tidak
percaya bahwa Aku juga sanggup unuk menolongmu..?” Dan saya menjawab,
“Baiklah Tuhan, sekalipun saya harus menderita karena menanggung kesalahan
yang tidak seharusnya saya tanggung, tapi jika ini seijinMu.. saya rela &
menyerah sepenuh kepadaMu, karena saya percaya bahwa hanya Engkau yang sanggup
untuk menolong saya.”
Sejak saat itu hati saya mulai damai, sekalipun masalah belum selesai tapi
dalam hati saya percaya bahwa masalah ini akan selesai dengan baik. Dan ternyata
benar, memang ada kelebihan uang pada teman saya/kasir-2. Dia juga kebingungan
karena tidak tahu itu uang siapa dan ternyata adalah uang saya.
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, mengawali tahun ini Tuhan sudah menggenapi
FirmanNya yaitu untuk memberikan suasana Firdaus dalam hidup saya lewat pertolonganNya
yang begitu indah di balik masalah yang saya alami. Sebenarnya kehidupan saya
adalah kehidupan yang begitu lemah, rapuh, banyak keterbatasan dan ketidakberdayaan..,
dengan kekuatan sendiri tidaklah mampu menghadapi dosa, masalah, dan pencobaan-pencobaan
yang semakin hari terasa semakin berat. Seharusnya hanyalah kekalahan yang menjadi
upah dan bagian saya. Tetapi justru dalam kelemahan itulah saya semakin bisa
melihat dan merasakan betapa besar dan kuatnya KUASA & KASIH TUHAN yang
menjadikan saya mampu bertahan bahkan menang, bahkan sampai pada kemenangan
yang terakhir yaitu saat Tuhan berkenan dan rela mengangkat kehidupan yang hina
semacam saya menjadi Mempelai Wanita Nya (Roma 8:35-37). |