Pada hari Senin malam setelah suami saya makan, saya menegurnya sebab makannya
tidak habis. ”Pa, makannya kho tidak habis, kalau dimakan nanti tidak
enak (bededek).” ”Nanti saya makan,” katanya sambil agak membentak.
Secara tidak sadar saya agak blerok karena terkejut. Kemudian saya, suami, dan
anak saya keluar belanja sebentar. Di tengah perjalanan pulang anak saya turun
sebentar untuk membeli makanan, suami saya menegor saya, ”Masak masalah
gitu aja dipermasalahkan, kamu tadi ko mlerok.” Lalu saya katakan tidak,
masak sudah bertahun-tahun jadi suaminya tidak tahu wataknya kalau saya ini
orang keras dan mudah tersinggung, kalau sudah bosan ya katakan. Langsung saya
minta maaf atas kesalahan saya bahwa saya tidak mempunyai maksud seperti itu.
Lalu suami saya mengatakan, ”Nasi 2 sendok aja dipermasalahkan. Lihat
anak-anak sekarang semua tidak ada yang menurut, berani sama papanya.”
Kemudian saya katakan, ”Ayo pergi gereja sama-sama biar sama-sama diubah.”
Lalu suami saya tambah marah. Sebab kemarinnya anak saya disuruh papanya untuk
membeli makanan ikan tapi tidak mau. ”Pa, ikannya tidak makan tidak apa-apa,
lelenya biar makan lumut.” Kemudian suami saya menyuruh saya dan sayapun
langsung membelinya. Ya memang kalau anak salah tidak secara langsung menegor/memarahi,
yang jadi sasaran mamanya.
Kemudian pada hari Selasa pagi saya disuruh mengingatkan untuk memperbaiki
sepatu teman suami saya tapi saya lupa. Saya mengingatnya saat saya akan menyapu
tapi suami saya sedang mandi. Saat akan makan pagi saya ingatkan, ”Lho,
Pa. Sepatunya belum dilem.” ”Disuruh ingatkan, ndak mau ingatkan
tadi.” Kemudian saya minta maaf lagi. Saya katakan, ”Saya lupa,
sibuk di dapur, ingatnya mau nyapu, ya maafkan lha, Pa.” Suami saya masih
marah-marah. Kemudian saya ambilkan obat sebab dia tidak enak badan. Suami saya
mengatakan, ”Taruh di meja aja.” Bekal makanan (bontotan) juga sudah
saya siapkan. Waktu berangkat kerja biasanya suami saya pamit tapi hari itu
tidak pamit. Saya diam saja sebab hari itu ada doa puasa.
Saya bersyukur dapat ikut doa puasa dan Tuhanpun membukakan firmanNya. Pagi
itu firmanNya menyatakan kalau kita taat dan setia dalam ibadah maka segala
perkara yang kita hadapi setiap hari, Tuhan yang akan menyelesaikan. Sorenya
Bapak Gembala mengatakan kalau kita berpuasa dan berdoa maka dapat mempercepat
pembaruan dan perobekan daging untuk kita menyatu dengan Yesus. Saya berterima
kasih pada Tuhan dan firman yang disampaikan Bapak Gembala sebab saya bisa langsung
praktek firman sepulangnya. Saya menyapa suami saya apa sudah makan, kebetulan
kemarin habis menjemput anak saya les, katanya sudah nanti makan lagi, dan setelah
membetulkan honda memang suami saya makan lagi. Karena suami saya sakit batuk,
saya tanya apa dimasakkan Indomie kuah. Suami saya menjawab tidak perlu, makan
apa adanya. Pada hari itu juga saya dapat merasa kasih Tuhan sebab kami saling
mengasihi. Esok paginyapun suami saya pamit saat berangkat kerja.
Saya mengucap syukur dan terima kasih pada Tuhan juga Bapak Gembala berkat
firman dan doa-doanya. Apa yang dihadapi domba-dombanya selalu didoakan, berarti
ada doa penyahutan dari Tuhan secara langsung. |