Kesalahan
saya mulai ketika saya tidak taat pada Tuhan, tapi mengikuti keinginan
daging. Kira-kira Oktober 2004, saya mengalami penurunan rohani yang tidak
pernah saya alami sebelumnya. Tuhan terasa begitu jauh, dosa-dosa mulai
banyak saya lakukan (karena tidak punya kontrol yaitu Roh Kudus) dan menjadi
sandungan (padahal saya rajin ke gereja, tapi malah membuat orang baru
undur dari gereja karena melihat sikap saya yang liar), hidup saya juga
terasa kosong, tidak punya arah tujuan.
Iblis mulai memanfaatkan
dan mendakwa saya. Sehingga saya merasa sangat berdosa, najis, tidak punya
harapan, putus asa, gelisah, berbeban berat.
Namun dalam keadaan begitu berdosa, Tuhan masih menemani, membimbing dan
menopang saya, seperti janjiNya di Yes 46: 4 ("Sampai masa tuamu,
Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu, Aku menggendong kamu. Aku
telah melakukannya dan mau menanggung kamu trus. Aku mau memikul kamu
dan menyelamatkan kamu").
Iblis membuat saya memandang
masalah menjadi sangat besar, ia membuat saya putus asa, ia membutakan
mata hati saya, hingga tidak bisa merasakan kasih, kuasa dan kehadiran
Tuhan alias mati rasa terhadap sentuhan Tuhan juga menempatkan saya sebagai
orang yang selalu kalah, padahal janji Tuhan, saya sudah lunas dibayar
dan saya lebih dari pemenang! Yesus sudah bangkit untuk menjadi pembela
bagi saya.
Lama saya jatuh bangun dalam
dosa, saya tidak ingin terlena dengan dakwaan-dakwaan iblis. Tetapi setiap
saya hendak bangkit, saya selalu gagal, karena saya andalkan kekuatan
sendiri. Waktu berdoa, juga terasa sangat kering, sehingga saya sempat
berpikir untuk undur dari pelayanan sementara, karena saya merasa tidak
layak dan sangat putus asa. Namun Tuhan tekankan pada saya bahwa saya
harus tetap tekun berdoa, sebab dalam menyembah, Tuhan mengajarkan ketetapanNya
dan rancanganNya kepada saya. Juga tekun membaca dan mendengar Firman,
karena dalam Firman, saya mendapat keteguhan. Dalam menyembah, saya mendapat
ketenangan yang sejati.
Semakin lama, saya semakin
parah, saya mulai mengutuki Tuhan dan diri sendiri. Saya bilang, saya
ini anak....., ayam (padahal Tuhan bilang saya rajawali). Saya menghujat
Tuhan, meragukan keberadaan Tuhan, saya berkata pada Tuhan: "Engkau
tidak adil, Engkau tidak ada, aku kecewa padaMu, selama ini, apa guna
usahaku susah payah ibadah dan melayani Engkau! Teman-temanku yang tidak
ibadah dan pelayanan hidupnya kelihatannya lebih bahaia dariku!"
Namun setelah mengatakannya,
saya menyesal, sebab apa yang Tuhan beri jauh sangat baik untuk saya.
Saya gagal dan kecewa karena saya tidak pernah bersyukur, selalu menuntut
Tuhan dan memaksakan kehendak saya tanpa mempedulikan perasaaan Tuhan/menyenangkan
Tuhan lebih dulu. Saya juga menolak campur tangan Tuhan dalam hidup saya,
karena merasa mampu, merasa Tuhan lambat bekerja.
Tapi Tuhan ingatkan saya,
walaupun saya sangat najis, tapi ia tidak jijik untuk dekat dengan saya,
yaitu:
- Saya hanya hamba (dolos), tidak menuntuk
hak, hanya melakukan kewajiban.
- Saya jatuh ke lembah ini karena setelah
saya sadar, saya tidak taat.
- Saya ibadah pelayanan, hanya rutinitas
saja, tanpa kasih pada Allah.
- Dia mati untuk saya, walaupun saya adalah
pemberontak.
Kadang saya bertanya dalam
hati "Mengapa pemberontak seperti saya dikasihi begitu rupa oleh
Tuhan yang begitu mulia? Padalal banyak orang di dunia ini, tapi mengapa
saya yang begitu muda dan tersembunyi ini sangat diperhatikan? Dia dari
tempat tertinggi, rela turun untuk menolong saya dilembah gelap yang sangat
dalam, dalam keadaan berlumur dosa (Allah itu bagi kita tempat perlindungan
dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti, Mzm 46:
2).
Seperti Petrus, Yesus pulihkan
saya, Dia batu karang yang teguh, yang kini menjadikan saya batu karang,
tidak pikirkan kesenangan diri, tapi memikul salibNya dan membiarkan Dia
menjadi Tuhan dalam hidup saya. Karena selama ini, saya sudah menjadi
tuhan bagi diri sendiri dan mengambil kedaulatan Tuhan dalam hidup saya.
Padahal Tuhan ingin menjadi Tuhan dalam hidup saya dalam hal sekecil apapun.
Sebab tanpa Tuhan, hidup saya kosong, apa arti keberhasilan di dunia tanpa
Yesus. Saya kehilangan arah hidup tanpa Yesus. Puji Tuhan, Dia sudah pulihkan
saya, semua hanya karena kemurahan dan pengampunanNya bagi saya. Tekun
dan sabar menanti waktuNya, Ia yang merancangkan yang terbaik bagi yang
berharap padaNya.
Apabila bejana, yang sedang dibuatNya dari tanah liat di tanganNya itu
rusak, maka tukang periuk itu mengerjakan kembali menjadi bejana lain
menurut apa yang baik di pemandanganNya (Yer 18: 5). |